Mulai hari senin sampai jum’at, saya yang kuliah di salah satu PTN di kota Surabaya harus selalu berangkat pagi sekitar pukul 6 lebih dan untuk mencapai kampus, saya harus menempuh perjalanan sekitar kurang lebih 45 menit. Di tengah perjalanan ke kampus ternyata ada sesuatu hal yang membuat saya terenyuh. Di tengah perjalanan ke kampus, saya melihat sebuah truk memuat berjubelan manusia yang tentunya berangkat kerja di suatu kawasan industri di Surabaya barat. Truk yang lebih pantas untuk memuat barang atau hewan ternak yang biasa terlihat di rumah potong hewan di dekat rumah saya, dipergunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk memuat buruh-buruhnya ke sebuah tempat untuk memeras keringat dan membanting tulang demi memenuhi kebutuhan hidup masing-masing individu sehari-hari. Hal ini sungguh sangat di luar perikemanusiaan atau oleh guru saya disebut “ tidak memanusiakan manusia”.
Bangsa kita telah terlindas dalam arus globalisasi yang semakin global ( saya tak tahu lagi harus bicara apa saja tentang globalisasi yang dulunya pernah saya bahas di kelas semasa SMA dengan teman dan guru PKn saya tentang globalisasi bahwa dalam pikiran saya “ Eropa kini tak lagi jauh dari Indonesia, hanya dengan menonton TV kita dapat melihat siaran langsung sepakbola di Italia atau di Inggris “. Dalam benak saya semakin kecil saja dunia ini. Habiburrahman el Shirazi dalam novelnya yang fenomenal Ayat-ayat Cinta mengumpamakan bahwa “ jarum yang jatuh di pedalaman papua saja akan terdengar hingga Amerika “. ) namun kali ini saya tidak membicarakan masalah globalisasi. Yang perlu saya bahas dari kejadian saya pada paragraf pertama adalah tentang bangsa kita yang di luar negeri maupun di negeri sendiri mayoritas menjadi bangsa buruh, dengan gaji yang hanya pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari yang setiap harinya harus bekerja dari pagi hingga petang dan terkadang harus lembur hingga malam harinya. Begitu seterusnya setiap hari dilaluinya. Hingga tak terasa hari telah jadi bulan, bulan berganti jadi tahun, dan tahun jadi berwindu-windu setelah bangsa ini telah merdeka lebih dari setengah abad yang lalu. Beginilah nasib para anak bangsa yang hanya dapat bekerja dengan ototnya setiap hari. Kesejahteraan mereka yang kebanyakan jauh dari kelayakan belum sepenuhnya mendapat perhatian dari pemerintah. Dengan truk mereka di jemput dan jika di PHK dengan pesangon yang hanya beberapa rupiah atau malah tidak sama sekali. Mungkin ini jadi takdir bangsa kita dengan jumlah penduduk lebih dari 20 juta manusia harus menjadi bangsa berotot, bangsa yang bekerja dengan kemampuan kekuatan bukan dengan kemampuan berfikir. Namun dalam kitab suci saya Tuhanku telah berfirman dalam surat Ar-Ra’du ayat sebelas “ Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali mereka mengubah nasib mereka sendiri “. Firman tersebut telah memberi secerca harapan kepada diri saya sendiri utamanya dan untuk semua manusia yang mempercayai Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya bahwa baik dan buruk pada diri kita, kita sendiri yang menentukan. Oleh karena itu, tiap-tiap manusia hendaknya terus berusaha demi nasibnya dan kalau perlu bertindak untuk nasib bangsanya agar tidak semakin tergencet hingga tidak bernafas dalam kerasnya arus globalisasi.
Jika kita berbicara masalah bangsa yang berotot tentunya tidak bisa dilepaskan dengan masalah otak atau lebih halus saya sebut dengan pikiran. Biar bangsa kita mayoritas merupakan bangsa yang berotot namun bagi yang berotak jangan sekali-kali meremehkan yang berotot karena otak tak akan dapat bekerja tanpa otot. Yang jadi permasalahan adalah sampai kapan kesejahteraan dan jaminan kerja bagi anak bangsa kita yang berotot dapat tercukupi……………….. apakah dengan kendaraan truk mereka nyaman berangkat kerja ? apakah dengan pesangon yang tak terbayarkan, mereka merasa jerih payahya dihargai ? atau dengan undang-undang pemerintah tentang ketenaga kerjaan dapat memuaskan hati buruh indonesia ? atau undang-undang pemerintah yang hanya jadi tulisan rapi yang diketik dan disahkan lalu disimpan dalam suatu agenda bertuliskan UNDANG-UNDANG akan dapat membantu kesejahteraan bangsa ini ? apa lagi ?……………………………………… semoga dengan manfaat dari surat Ar-Ra’du ayat 11 tadi dapat memberikan motivasi tersendiri bagi anak bangsa ini.
Filed under: mind n' soul